Motivasi
Waktu adalah pedang, jika kamu bisa menggunakan dengan baik, maka pasti akan membawa keberuntungan, tapi jika kau menggunakan dengan buruk, pasti dia akan membunuhmu. Dikutip dari Syekh Puji
Motivasi
Hargai dan hormati orang lain jika kita ingin dihormati dan dihargai orang lain, serta hormati dan hargai diri sendiri terlebih dulu baru kita bisa menghargai dan menghormati orang lain. Dikutip dari Bp H Nur Isrofi
Motivasi
Ketika diri kita merasa telah dikhianati dan dikecewakan, berdoalah agar suatu saat kau tak akan mengkhianati dan mengecewakan, karena kamu juga telah merasakan betapa sakitnya dikhianati dan dikecewakan. Dikutip dari Bp Abi Hasan
Tampilkan postingan dengan label imam syafii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imam syafii. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Januari 2012
Profile Imam Syafi'i
Kebanyakan
ahli sejarah mencatat bahwa Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza,
Palestina, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir di
Asqalan. Ada juga yang mengatakan Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H di
Yaman dimana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Ahlusunnah yang bernama Imam Abu Hanifah.
Sejak kecil Syafi’i telah
kehilangan ayahnya. Kala itu beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya
dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan serba kekurangan. Imam
Syafi’i mempelajari fikih dan hadis ketika di Mekkah dan untuk beberapa
waktu beliau juga belajar syair, sastra bahasa (lughat)
dan nahwu di Yaman. Sampai pada suatu waktu atas saran Mus’ab bin
Abdullah bin Zubair, beliau pergi ke Madinah untuk menekuni ilmu hadis
dan fikih. Diusianya yang relatif muda (sekitar 20 tahunan), beliau
telah belajar kepada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.
Imam
Syafi’i menuturkan masa lalunya seperti ini: Sewaktu saya belajar, guru
saya mengajarkan kepada saya tentang Al-Qur’an dan saya pun
menghafalnya. Saya ingat waktu itu guru saya pernah berkata: ‘Tidak
halal bagi saya sekiranya mengambil imbalan dari kamu.” Dengan alasan
tersebut, akhirnya saya meninggalkan guru tersebut. Sejak itu saya
mengumpulkan potongan tembikar, kulit dan pelepah kurma yang agak besar
sebagai sarana yang saya pakai untuk menuliskan hadis. Akhirnya, saya
pergi ke Mekkah. Aku tinggal bersama kabilah Hudail yang terkenal dengan
kefasihannya selama 17 tahun. Setiap kali mereka berpindah dari satu
tempat ke tempat lain, aku pun mengikuti jejak mereka. Saat aku pulang
ke Mekkah, aku telah menguasai banyak sekali disiplin ilmu. Waktu itu
aku bertemu dengan salah seorang pengikut Zubair lalu salah seorang dari
mereka berkata kepadaku: “Sangat berat bagiku melihat Anda yang begitu
jenius dan fasih namun Anda tidak mempelajari fikih.” Tak lama setelah
itu, mereka membawaku ke tempat Imam Malik.
Saya
telah memiliki buku “Al-Muwatho’” Imam Malik dan cuma dalam waktu
sembilan hari aku telah mempelajarinya. Kemudian saya pergi ke Madinah
untuk belajar dan menghadiri majlis taklim Imam Malik.”
Imam
Syafi’i tetap tinggal di kota Madinah sampai saat wafatnya Malik bin
Anas. Kemudian beliau pergi ke Yaman dan beliau menghabiskan
aktivitasnya di sana. Penguasa Yaman pada waktu itu seorang yang zalim
dan bekerja sama dengan pemerintahan Harun ar-Rasyid, Khalifah
Abassiyah. Dalam kondisi seperti itu, penguasa menangkap Imam Syafi’i
dengan alasan dikhawatirkan beliau akan memberontak bersama Alawiyyin
(keturunan Ali bin Abi Thalib) lalu beliau dibawa kepada Harun
ar-Rasyid, tetapi Harun ar-Rasyid membebaskannya.
Muhammad
bin Idris untuk beberapa waktu pergi ke Mesir dan kemudian pada tahun
195 H beliau mendatangi Bagdad dan mengajar disana. Setelah dua tahun
tinggal di Bagdad, beliau kembali ke Mekkah. Tak lama setelah itu,
beliau pergi lagi ke kota Bagdad dan dalam waktu yang cukup singkat
tinggal di Bagdad. Pada tahun 200 H di penghujung bulan Rajab di usia 54
tahun beliau meninggal dunia di Mesir. Tempat pemakamannya di Bani
Abdul Hakam berdekatan dengan makamnya para syuhada dan menjadi tempat
ziarah kaum Muslimin, khususnya kalangan Ahlusunnah.
Salah satu murid Imam Syafi’i yang terkenal adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.
Karya-karya Imam Syafi’i
Imam Syafi’i memiliki banyak sekali karya berharga, di antaranya adalah:
1. Al-Umm
2. Musnad as-Syafi’i
3. As-Sunnan
4. Kitab Thaharah
5. Kitab Istiqbal Qiblah
6. Kitab Ijab al-jum’ah
7. Sholatul ‘Idain
8. Sholatul Khusuf
9. Manasik al Kabir
10. Kitab Risalah Jadid
11. Kitab Ikhtilaf Hadist
12. Kitab Syahadat
13. Kitab Dhahaya
14. Kitab Kasril Ard
Berhubung
pusat pengajaran beliau berada di kota Bagdad dan Kairo, maka melalui
dua kota tersebut secara perlahan Mazhab Syafi’i disebarkan oleh
murid-muridnya ke negeri-negeri Islam lainnya, seperti Syam, Khurasan
dan Mawara’u Nahr. Tetapi pada abad ke-5 dan ke-6 terjadi konflik keras
antara para pengikut Syafi’i dan pengikut Hanafi di Bagdad dan juga
pengikut Syafi’i dan Hanafi di Isfahan. Begitu juga para pengikut
Syafi’i sempat bentrok dengan dengan para pengikut Syiah dan Hanafi pada
zaman Yaqut dimana setelah itu mereka menguasai kota Rei.
Mazhab
Syafi’i lebih dikenal dengan perpanduan antara ahli qiyas dan ahli
hadis. Mazhab Syafi’i sekarang tersebar di Mesir, Afrika Timur, Afrika
Selatan, Arab Saudi bagian Barat dan Selatan, Indonesia, sebagian dari
Palestina dan sebagian dari Asia Tengah, khususnya kawasan Kurdistan.
Di
antara ulama-ulama pengikut Mazhab Syafi’i yang terkenal adalah:
Nasai’, Abu Hasan Asy’ari, Abu Ishaq Shirazi, Imamul Haramain, Abu Hamid
Ghazali, dan Imam Rafi’i.
Imam Asy Syafi'i
Kebanyakan
ahli sejarah mencatat bahwa Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza,
Palestina, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir di
Asqalan. Ada juga yang mengatakan Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H di
Yaman dimana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Ahlusunnah yang bernama Imam Abu Hanifah.
Sejak kecil Syafi’i telah
kehilangan ayahnya. Kala itu beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya
dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan serba kekurangan. Imam
Syafi’i mempelajari fikih dan hadis ketika di Mekkah dan untuk beberapa
waktu beliau juga belajar syair, sastra bahasa (lughat)
dan nahwu di Yaman. Sampai pada suatu waktu atas saran Mus’ab bin
Abdullah bin Zubair, beliau pergi ke Madinah untuk menekuni ilmu hadis
dan fikih. Diusianya yang relatif muda (sekitar 20 tahunan), beliau
telah belajar kepada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.
Imam
Syafi’i menuturkan masa lalunya seperti ini: Sewaktu saya belajar, guru
saya mengajarkan kepada saya tentang Al-Qur’an dan saya pun
menghafalnya. Saya ingat waktu itu guru saya pernah berkata: ‘Tidak
halal bagi saya sekiranya mengambil imbalan dari kamu.” Dengan alasan
tersebut, akhirnya saya meninggalkan guru tersebut. Sejak itu saya
mengumpulkan potongan tembikar, kulit dan pelepah kurma yang agak besar
sebagai sarana yang saya pakai untuk menuliskan hadis. Akhirnya, saya
pergi ke Mekkah. Aku tinggal bersama kabilah Hudail yang terkenal dengan
kefasihannya selama 17 tahun. Setiap kali mereka berpindah dari satu
tempat ke tempat lain, aku pun mengikuti jejak mereka. Saat aku pulang
ke Mekkah, aku telah menguasai banyak sekali disiplin ilmu. Waktu itu
aku bertemu dengan salah seorang pengikut Zubair lalu salah seorang dari
mereka berkata kepadaku: “Sangat berat bagiku melihat Anda yang begitu
jenius dan fasih namun Anda tidak mempelajari fikih.” Tak lama setelah
itu, mereka membawaku ke tempat Imam Malik.
Saya
telah memiliki buku “Al-Muwatho’” Imam Malik dan cuma dalam waktu
sembilan hari aku telah mempelajarinya. Kemudian saya pergi ke Madinah
untuk belajar dan menghadiri majlis taklim Imam Malik.”
Imam
Syafi’i tetap tinggal di kota Madinah sampai saat wafatnya Malik bin
Anas. Kemudian beliau pergi ke Yaman dan beliau menghabiskan
aktivitasnya di sana. Penguasa Yaman pada waktu itu seorang yang zalim
dan bekerja sama dengan pemerintahan Harun ar-Rasyid, Khalifah
Abassiyah. Dalam kondisi seperti itu, penguasa menangkap Imam Syafi’i
dengan alasan dikhawatirkan beliau akan memberontak bersama Alawiyyin
(keturunan Ali bin Abi Thalib) lalu beliau dibawa kepada Harun
ar-Rasyid, tetapi Harun ar-Rasyid membebaskannya.
Muhammad
bin Idris untuk beberapa waktu pergi ke Mesir dan kemudian pada tahun
195 H beliau mendatangi Bagdad dan mengajar disana. Setelah dua tahun
tinggal di Bagdad, beliau kembali ke Mekkah. Tak lama setelah itu,
beliau pergi lagi ke kota Bagdad dan dalam waktu yang cukup singkat
tinggal di Bagdad. Pada tahun 200 H di penghujung bulan Rajab di usia 54
tahun beliau meninggal dunia di Mesir. Tempat pemakamannya di Bani
Abdul Hakam berdekatan dengan makamnya para syuhada dan menjadi tempat
ziarah kaum Muslimin, khususnya kalangan Ahlusunnah.
Salah satu murid Imam Syafi’i yang terkenal adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.
Karya-karya Imam Syafi’i
Imam Syafi’i memiliki banyak sekali karya berharga, di antaranya adalah:
1. Al-Umm
2. Musnad as-Syafi’i
3. As-Sunnan
4. Kitab Thaharah
5. Kitab Istiqbal Qiblah
6. Kitab Ijab al-jum’ah
7. Sholatul ‘Idain
8. Sholatul Khusuf
9. Manasik al Kabir
10. Kitab Risalah Jadid
11. Kitab Ikhtilaf Hadist
12. Kitab Syahadat
13. Kitab Dhahaya
14. Kitab Kasril Ard
Berhubung
pusat pengajaran beliau berada di kota Bagdad dan Kairo, maka melalui
dua kota tersebut secara perlahan Mazhab Syafi’i disebarkan oleh
murid-muridnya ke negeri-negeri Islam lainnya, seperti Syam, Khurasan
dan Mawara’u Nahr. Tetapi pada abad ke-5 dan ke-6 terjadi konflik keras
antara para pengikut Syafi’i dan pengikut Hanafi di Bagdad dan juga
pengikut Syafi’i dan Hanafi di Isfahan. Begitu juga para pengikut
Syafi’i sempat bentrok dengan dengan para pengikut Syiah dan Hanafi pada
zaman Yaqut dimana setelah itu mereka menguasai kota Rei.
Mazhab
Syafi’i lebih dikenal dengan perpanduan antara ahli qiyas dan ahli
hadis. Mazhab Syafi’i sekarang tersebar di Mesir, Afrika Timur, Afrika
Selatan, Arab Saudi bagian Barat dan Selatan, Indonesia, sebagian dari
Palestina dan sebagian dari Asia Tengah, khususnya kawasan Kurdistan.
Di
antara ulama-ulama pengikut Mazhab Syafi’i yang terkenal adalah:
Nasai’, Abu Hasan Asy’ari, Abu Ishaq Shirazi, Imamul Haramain, Abu Hamid
Ghazali, dan Imam Rafi’i.
08.45
Ardhia Pramesti

